Tips dan Trik dalam Mendesain Web

29 06 2008

Tips dan Trik dalam Mendesain Web

Sering kita temui website yang tipikal: “Welcome to my homepage,” animasi e-mail, background dengan tulisan miring (diagonal), animasi garis pembatas, tabel dengan border tiga-dimesi dan lain-lain. Hal ini terjadi akibat dari fasilitas Template yang disediakan oleh software pembuat web seperti: FrontpageT, Corel WebDesignerT, dan sebagainya yang ditujukan untuk mempermudah penggunanya dalam membangun website.
Jika anda puas dengan hasil kerja anda membangun website dengan fasilitas template, sudahlah cukup sampai disini. Tetapi jika anda tidak puas dengan apa yang anda buat, dan anda merasa ingin lebih baik, maka anda perlu mengetahui bagaimana Web Designer membangun suatu Website, terlepas anda punya bakat seni atau tidak.1. Unik : Dalam membuat karya apapun seorang designer mempunyai kesadaran untuk tidak meniru atau menggunakan karya orang lain. Begitu pula seorang Web Designer harus mempunyai budaya malu untuk menggunakan icon, animasi, button, dll, yang telah digunakan atau dibuat oleh orang lain.

2. Komposisi : Seorang Web Designer selalu memperhatikan komposisi warna yang akan digunakan dalam website yang dibuatnya. Pergunakan selalu Palette 216 WebColor, yang dapat diperoleh dari Adobe.com, hal ini untuk mencegah terjadinya dither pada image yang berformat GIF. Dalam membangun website suatu perusahaan, Web Designer selalu menyesuaikan warna yang digunakan dengan Corporate Color perusahaan tersebut. Sebagai contoh: Telkom Corporate Color-nya adalah biru, Coca-Cola : merah dan putih, Standard-Chartered : hijau dan biru, dsb. Untuk kemudian warna-warna tadi digunakan sebagai warna dominan atau sebagai elemen pendukung (garis, background, button, dsb).

3. Simple : Web Designer banyak yang menggunakan prinsip “Keep it Simple”, hal ini ditujukan agar tampilan website tersebut terlihat rapi, bersih dan juga informatif.

4. Semiotik : Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda. Dalam hal ini diharapkan dengan melihat tanda atau gambar, user/ audience dapat dengan mudah dan cepat mengerti. Sebagai contoh: Jangan membuat gambar/image yang berkesan tombol, padahal itu bukan tombol/ link.

5. Ergonomis : Web Designer selalu memperhatikan aspek ergonomi. Ergonomi disini adalah dalam hal kenyamanan user dalam membaca dan kecepatan user dalam menelusuri website tersebut. Web Designer memilih ukuran Fonts yang tepat sehingga mudah dibaca, Web Designer menempatkan link sedemikian rupa sehingga mudah dan cepat untuk di akses dan lebih penting lagi adalah Informatif.

6. Fokus : Tentukan hirarki prioritas dari pesan yang akan disampaikan, misalnya: Judul harus besar, tetapi jangan sampai akhirnya akan konflik dengan subjudul yang berukuran hampir sama. Hal ini akan membingungkan user/audience untuk menentukan pesan mana yang harus lebih dahulu dibaca/ dilihat.

7. Konsisten : Tentukan font apa yang akan digunakan sebagai Body-text, Judul, Sub Judul dan sebagainya, sehingga website tersebut akan terlihat disiplin dan rapi. Sesuaikan jenis huruf yang digunakan dengan misi dan visi website tersebut, misalnya: hindari menggunakan font Comic dalam membangun website suatu perusahaan resmi.

Demikian beberapa aspek dan prinsip yang digunakan Web Designer dalam membuat website, selebihnya merupakan ekspresi dari pembuat website itu sendiri yang terwujud dalam penggayaan penyusunan website.
Software-software pembuat suatu website
Desain : Untuk membuat desain suatu homepage biasanya para web designer dimulai dengan software ini sebagai tampilan sementara atau dalam membuat layout homepage.

1. Adobe Photoshop : Desain berbasis titik ( bitmap )
2. Adobe Image Ready : Memotong gambar-gambar ke dalam format html
3. Adobe Illustrator : Desain berbasis vector
4. CorelDraw : Desain berbasis vector
5. Macromedia Freehand : Desain berbasis vector

Efek Desain : Hal ini dilakukan untuk menghidupkan desain yang telah kita rancang. Seperti menambah efek cahaya, textur dan manipulasi teks.
1. Macromedia Firework : Efek teks
2. Painter : Memberikan efek lukisan
3. Ulead Photo Impact : Efek frame dan merancangan icon yang cantik.
4. Plugins Photoshop : Seperti Andromeda, Alien Skin, Eye Candy, Kai’s Power Tool dan Xenofex juga sangat mendukung untuk memberi efek desain sewaktu anda mendesain layout homepage di Photoshop.

Animasi : Penambahan animasi perlu untuk membuat homepage agar kelihatan menarik dan hidup.
1. 3D Studio Max : Untuk membuat objek dan animasi 3D.
2. Gif Construction Set : Membuat animasi file gif
3. Macromedia Flash : Menampilkan animasi berbasis vector yang berukuran kecil.
4. Microsoft Gif Animator : Membuat animasi file gif
5. Swift 3D : Merancang animasi 3D dengan format file FLASH.
6. Swish : Membuat berbagai macam efek text dengan format file FLASH.
7. Ulead Cool 3D : Membuat animasi efek text 3D.

Web Editor : Menyatukan keseluruhan gambar dan tata letak desain, animasi, mengisi halaman web dengan teks dan sedikit bahasa script.
1. Alaire Homesite
2. Cold Fusion
3. Microsoft Frontpage
4. Macromedia Dreamweaver
5. Net Object Fusion

Programming : Hal ini dilakukan setelah sebagian besar desain homepage telah rampung. Programming bertugas sebagai akses database, form isian dan membuat web lebih interaktif. Contoh : Membuat guestbook, Form isian, Forum, Chatting, Portal, Lelang dan Iklanbaris.
1. ASP ( Active Server Page )
2. Borland Delphy
3. CGI ( Common Gateway Interface )
4. PHP
5. Perl

Upload : File html kita perlu di letakkan ( upload ) di suatu tempat ( hosting ) agar orang di seluruh dunia dapat melihat homepage kita.
1. Bullet FTP
2. Cute FTP
3. WS-FTP
4. Macromedia Dreamweaver : dengan fasilitas Site FTP
5. Microsoft Frontpage : dengan fasilitas Publish

Sound Editor : Homepage kita belum hidup tanpa musik. Untuk mengedit file midi atau wav, perlu alat khusus untuk itu.
1. Sound Forge : Mengedit dan menambah efek file yang berformat mp3 dan wav.
2. Cakewalk : Mengedit dan menambah efek untuk file yang berformat midi

Banyak sekali memang software untuk membuat suatu homepage dan kita tidak perlu mempelajari semua software tersebut di atas. Tapi untuk mempermudah, bagi pemula lebih baik dimulai terlebih dulu dengan mempelajari software Microsoft Frontpage atau Macromedia Dreamweaver agar lebih mengenal aturan-aturan membuat homepage dan mengenal bahasa html. Setelah itu baru Adobe Photoshop yang dipakai kebanyakan para desainer.

 





Web Design Future

29 06 2008

Apa saja yang harus saya siapkan untuk membuat web site?

Jika anda hendak memasak, apa saja yang harus anda siapkan? Tentu tergantung jenis masakannya! Membuat web site tidak jauh beda. Apa yang harus anda siapkan tergantung dari tujuan pembuatan web site.
Jika anda hendak memasak, apa saja yang harus anda siapkan? Tentu tergantung jenis masakannya! Kalau anda hendak membuat mie goreng, mungkin anda akan menyiapkan mie, minyak goreng, sayur, ayam, lain-lain. Anda juga butuh wajan untuk menggoreng. Kalau hendak membuat soto ayam, anda tidak perlu mie dan minyak goreng. Anda juga menggunakan panci, bukan wajan, untuk memasak soto. Namun untuk hampir semua jenis masakan, anda memerlukan garam, dan juga kompor!Membuat web site tidak jauh beda. Apa yang harus anda siapkan tergantung dari tujuan pembuatan web site. Jika anda menginginkan web site berfungsi sebagai tempat untuk transaksi, misalnya toko buku online, maka anda harus menyiapkan daftar harga, rekening bank untuk menerima pembayaran, tabel ongkos kirim, atau bahkan software yang terintegrasi agar stok bisa ter-update setiap saat. Jika anda menginginkan web site berfungsi sebagai katalog produk online, maka anda harus menyiapkan foto-foto produk, spesifikasi produk, dan sebagainya. Namun pada intinya, hampir semua web site juga memerlukan ‘garam’ berupa foto-foto dan penjelasan mengenai bidang kerja, serta ‘kompor’ berupa layanan hosting dan domain.

Foto-foto
Foto-foto yang harus disiapkan adalah foto produk yang ingin ditampilkan (untuk perusahaan barang) atau fasilitas yang dijadikan unggulan (untuk perusahaan jasa). Sebagai pelengkap, diperlukan juga foto-foto pendukung, misalnya untuk menunjukkan eksterior kantor. suasana kerja, dan sebagainya.
Semakin banyak foto yang disiapkan, semakin bagus. Walaupun nantinya tidak semua foto dimuat, akan lebih baik jika anda memberikan foto sebanyak-banyaknya pada desainer web. Jumlah foto mempengaruhi kualitas web site yang dibuat, karena dengan semakin banyaknya pilihan foto, desainer web akan semakin leluasa memilih foto yang cocok dengan konsep desain yang dibuat. Jika jumlah foto terbatas, desainer web terpaksa mengkompromikan konsep desain dengan foto yang tersedia, sehingga kadangkala desain terasa sedikit ‘memaksa’.

Penjelasan mengenai bidang kerja
Tulisan yang berisi penjelasan mengenai bidang kerja serta penjelasan lain yang terkait juga harus disiapkan. Bagaimanapun, andalah yang paling mengerti mengenai produk dan layanan anda, dan bukan desainer web. Desainer web tidak mungkin mempunyai ‘product knowledge’ sebaik anda.
Jika anda sudah pernah membuat company profile, brosur, atau publikasi lainnya, akan lebih baik jika disertakan bersamaan dengan materi lainnya.

Hosting
Agar web site dapat diakses, maka file-file yang dibuat harus tersedia di komputer yang on dan terhubung ke internet selama 24 jam dengan kecepatan tinggi. Menyediakan sendiri komputer seperti itu akan sangat memakan biaya karena biaya hardware dan biaya koneksi internet berkecepatan tinggi selama 24 jam. Untuk itu dibutuhkan layanan hosting, yang tak lain adalah layanan penyewaan komputer yang on dan terhubung ke internet selama 24 jam dengan kecepatan tinggi.

Domain
Domain adalah alamat internet untuk mengakses web site anda (misalnya www.fiesto.com). Lebih lanjut mengenai domain dapat anda baca di artikel lainnya.
Di luar ‘garam’ dan ‘kompor’ di atas, anda sendiri yang tahu materi apa saja yang tepat untuk dipublikasikan kepada pengunjung agar web site memperoleh hasil yang maksimal dan tidak sekedar ada.

 

  

Skill Desainer Web

Pada dasarnya desain Web sama seperti desain perwajahan lainnya. Hal yang membedakan adalah media yang dipergunakan. Dalam hal kemampuan (skill) pun demikian, hingga banyak orang yang menyimpulkan bahwa desain Web itu sama dengan desain Grafis.Untuk menjadi seorang desainer Web, hal-hal yang harus Anda kuasai dan pahami adalah:

HTML
HTML adalah bahasa pergaulan yang dipergunakan untuk melayout sebuah halaman Web. Jadi jelaslah bahwa pengetahuan Anda tentang HTML mutlak diperlukan. Terlepas kini terdapat Editor HTML WYSIWYG atau Editor HTML Visual, pengetahuan tentang dasar dan prinsip penggunaan HTML akan sangat diperlukan. Software: Dreamweaver, Frontpage, GoLive, HTMLDog, dan lain-lain.

CSS
CSS adalah alat untuk memformat halaman Web, berbeda dengan HTML, CSS lebih memfokuskan kepada “bagaimana HTML itu ditampilkan”.
Software: Dreamweaver, Frontpage, dll.

Editor Grafis
Dalam membuat sebuah situs Web, kita tidak terlepas dari pengolahan grafis untuk membuat sebuah halaman Web yang sesuai dengan keinginan. Pengolahan gambar, bahkan elemen desain lainnya dapat Anda buat dengan editor grafis. Dengan menguasai program editor grafis, Anda bahkan dapat membuat sketsa desain sebelm diiumplementasikan ke dalam HTML.
Software: Photoshop, Fireworks, Paint Shop Pro, The GIMP, dll.

Animasi Web
Animasi Web sangat diperlukan ketika Anda membuat sebuah banner atau animasi lainnya.
Software: Flash, Image Ready, Fireworks.
Anda tidak perlu menguasai semua software yang tertera diatas, cukup satu software saja setiap kemampuan yang ingin Anda kembangkan.

 





Poster Indonesia Belum Memiliki Ciri Khas

29 06 2008

Poster Indonesia Belum Memiliki Ciri Khas

Poster-poster di Indonesia hingga saat ini belum memiliki ciri khas. Bahkan, dalam bidang komersial dapat dikatakan tidak ada poster yang bagus. Berbeda dengan poster-poster Polandia atau Jepang, hanya dengan melihat beberapa poster saja kita dapat langsung mengetahui bahwa itu adalah poster Polandia atau Jepang karena mereka memiliki region/national style.

“Tetapi kalau kita mencoba melihat masa tahun 1930-an ke bawah, ada poster seniman Indonesia yang masih dipengaruhi grafikus Belanda yang masih menganut Dutch Victorian, Dutch Moderne atau Dutch Deco. Hampir seperti plakat steel, punya cara steelasi yang sangat gamblang, warna-warnanya masih murni dan mendominasi dunia perdagangan. Mungkin juga karena ada jarak yang bersifat nostalgia, maka ketika melihat poster-poster itu rasanya bagus,” kata Wagiyono, praktisi grafis, dalam diskusi “Perkem-bangan Seni/Desain Poster Indonesia” di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (15/4).
Selain Wagiono, pada diskusi tersebut juga tampil praktisi grafis Irvan Noek’man yang mempresentasikan perkembangan poster-poster Indonesia sejak masa Belanda hingga poster partai-partai peserta pemilihan umum yang baru lalu.

Menurut Wagiono, pada poster Polandia ada satu tradisi art yang berkembang pada seni Eropa yang sebetulnya masih berbekas terus-menerus. “Lima saja poster Polandia dipamerkan, kita akan langsung tahu bahwa itu poster Polandia,” katanya. Hal seperti ini tidak banyak terjadi di tempat lain. Yang punya sifat seperti itu adalah poster Jepang. Menurut Wagiono, tidak banyaknya negara lain yang seperti itu karena mereka terlalu berorientasi pada gaya internasional dan mencoba mencari satu gaya yang universal.

Poster-poster Indonesia yang menarik, kata Wagiono, justru terjadi di dunia yang tidak komersial, tetapi lebih banyak di pertunjukan-pertunjukan yang berkaitan dengan teater, tari, musik, film dan pariwisata. “Di film pun kita akan melihat film-film yang serius yang dibuat oleh Teguh Karya. Poster-posternya biasanya juga lebih berhati-hati. Akan tetapi kebanyakan di dalam film Benyamin S atau Warkop memang dibuat tidak dengan keinginan menjadi poster yang bagus, tetapi hanya keinginan untuk menarik masyarakat, apalagi film-film yang panas,” ujar Wagiono.

Hal yang sama juga belum terjadi pada desain. “Kita bisa saja mengumpulkan karya-karya desain grafis dan kita cocokkan. Saya kira ini isu besar di samping suatu desain yang memberikan kesempatan dan kebebasan berekspresi, berkreasi tetapi juga sebetulnya kita harus mempunyai ciri yang sangat kuat menjadi suatu region style atau national style yang bisa kita banggakan,” ucap Wagiono.





The Future Advertising

29 06 2008

The Future of Advertising

Kalau internet telah mempengaruhi hidup kita sedemikian jauh, apakah internet juga akan mempengaruhi masa depan iklan ? Begitu pertanyaan yang dilayangkan seorang pembaca kepada saya lewat e-mail belum lama ini.

Saya sempat tertegun menerima pertanyaan seperti itu. Yang pasti, meledaknya bisnis dot.com lima tahun lalu memang telah membuat banyak terobosan baru tentang dunia periklanan.
Seorang praktisi periklanan belum lama ini mendongeng kepada saya tentang teknologi yang mungkin tak lama lagi akan kita nikmati.

Teknologi itu bernama broadband, yang memungkinkan kita menonton televisi lewat internet. Bila hal ini terjadi maka ongkos operasional TV akan menjadi sangat murah mengingat saat ini perusahaan TV harus mengeluarkan banyak biaya untuk membangun infrastuktur mahal seperti jaringan antena pemancar.

Salah satu TV kabel Indonesia, Q Channel, kini mulai melakukan streaming programnya lewat internet yang membuat Q Channel dapat ditonton semua pemirsa di seluruh dunia. Hanya saja, jika Anda menontonnya lewat jalur internet biasa, kualitas suara dan gambarnya masih tersendat-sendat, persis pipa ledeng yang macet.

Hal ini akan berbeda jika Anda menontonnya lewat saluran internet broadband. Gambarnya akan bagus sekali. Di masa mendatang, di mana teknologi broadband semakin maju, pemancaran televisi lewat saluran internet akan menjadi sebuah realita yang bukan omong kosong.

Lalu apa bedanya ? Internet memiliki satu keunggulan yang unik yaitu mass customization. Ketika menonton TV, setiap kali penayangan iklan Anda cenderung akan memindahkan saluran terutama jika Anda tidak menyukai iklannya. Hal ini tentunya akan menggangu efektivitas iklan tersebut disamping stasiun TV pun khawatir Anda akan memindahkan saluran di tengah suatu acara.

Di masa mendatang, TV yang disalurkan lewat Internet akan memiliki menu pilihan di mana Anda dapat memilih sendiri iklan yang disukai sehingga tidak perlu memindahkan saluran. Efektivitas iklan pun menjadi lebih tinggi. Sebuah konsep yang jelas-jelas sangat menarik bukan ? Inilah konsep baru yang namanya, Marketing Permisi, atau “Permission Marketing”. Sebuah konsep pemasaran yang ditulis oleh Seth Godin yang pernah menjabat Vice President Marketing, dari Yahoo !

Menurut Godin, di masa mendatang kita harus permisi kepada konsumen terlebih dahulu, dan minta ijin kepada konsumen untuk menyampaikan sebuah pesan komunikasi iklan. Karena hubungan ini, berdasarkan ijin konsumen, maka jelas efektifitasnya akan menjadi sangat tinggi. Bukan tidak mungkin, di masa mendatang konsumen akan dibayar untuk menonton, membaca, ataupun mendengar sebuah iklan. Sekarang kalau Anda mendengar radio, sebenarnya banyak jingle iklan yang cukup indah dan enak didengar. Malah banyak jingle iklan yang dibuat berdasarkan lagu-lagu hit dunia.

Di masa mendatang, ada kemungkinan lagu-lagu iklan terkenal dapat di-download dari internet. Perusahaan-perusahaan iklan mungkin akan menyediakan cd gratis yang berisi kompilasi lagu-lagu iklan terkenal. Sehingga Anda tidak lagi perlu membeli cd untuk musik di mobil atau dirumah. Lumayan bukan ?

Banyak situs internet juga menawarkan screen saver yang unik untuk komputer Anda. Semuanya kebanyakan berisi iklan. Favorit saya adalah screensaver yang berasal dari promosi-promosi iklan film block buster yang sedang hit. Di lap-top saya saat ini, saya menggunakan screen saver dari film Mission Impossible II yang saya anggap sangat keren.

Produk-produk bermerek dunia seperti Coca Cola juga memiliki screen saver yang keren-keren. Anda juga mungkin berminat menciptakan screen saver yang keren dari produk Anda. Lalu Anda bisa mendistribusikannya cuma-cuma kepada seluruh klien Anda. Bila screen saver Anda cukup menarik, niscaya Anda akan mendapatkan permisi dari konsumen Anda, dan mereka akan memasangnya di komputer mereka masing-masing. Sebuah mekanisme iklan yang efektif sekali.

Bentuk iklan lainnya di masa mendatang adalah iklan dalam bentuk video game atau internet game. Menurut majalah Red Herring 20 Maret 2001, tak kurang dari 25 juta konsumen saat ini sudah aktif memainkan internet game. Saya sendiri sudah mencoba video game dari Pepsi yang disebut ’Pepsi Man’ yang cukup asyik. Situs-situs internet di masa mendatang akan menawarkan pula berbagai aneka permainan internet yang gratis yang semuanya merupakan bentuk-bentuk kreatif iklan di masa mendatang.

Bukan mustahil di masa mendatang Hollywood akan membuat film cerita yang panjangnya 2 jam namun isinya iklan semua, namun dikemas dengan sangat menarik persis seperti film cerita yang biasa. Pokoknya iklan-iklan di masa mendatang akan semakin kreatif dan tingkat interaktifnya dengan internet akan semakin tinggi.





Proses Komunikasi

29 06 2008

Proses komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.

Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.

  1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
  2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
  3. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti kedua pihak.
  4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.

Komunikasi yang Efektif

Ketika kembali dari Singapura sehabis menerima MTV Awards Asia, Piyu, salah seorang personal grup band PADI membawakan sebuah buku yang sangat bagus buat saya. Judulnya Say it like Shakespeare karya Thomas Leech seorang pakar dan konsultan komunikasi bisnis, pembicara publik yang terkenal di Amerika Serikat. Kliennya termasuk perusahaan-perusahaan besar yang terdaftar dalam Fortune 500.Tidak peduli seberapa berbakatnya seseorang, betapapun unggulnya sebuah produk, atau seberapa kuatnya sebuah kasus hukum, kesuksesan tidak akan pernah diperoleh tanpa penguasaan ketrampilan komunikasi yang efektif. Apakah anda sedang mempersiapkan presentasi, negosiasi bisnis, melatih tim bola basket, membangun sebuah teamwork, bahkan menghadapi ujian akhir gelar kesarjanaan, maka efektifitas komunikasi akan menentukan kesuksesan anda dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Kemampuan anda dalam mengirimkan pesan atau informasi dengan baik, kemampuan menjadi pendengar yang baik, kemampuan atau ketrampilan menggunakan berbagai media atau alat audio visual merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif.
Menurut penulis buku ini tidak ada seorang pun di dunia yang memiliki kemampuan atau pengetahuan dan pemahaman mengenai komunikasi sebaik yang dimiliki oleh William Shakespeare, sastrawan Inggris yang sangat terkenal di abad pertengahan, yang hingga saat ini masih dipandang sebagai referensi utama sastra dunia. Selama berabad-abad banyak sekali komunikator ulung di dunia yang mendapatkan inspirasi dan panduan dari karya-karyanya yang abadi. Buku ini justru menggali lebih dalam karya-karya sang jenius sastra ini dan mengaplikasikan inspirasi dari karya-karya tersebut dalam dunia komunikasi baik personal maupun dalam komunikasi bisnis. Karya-karya Shakespeare ternyata mampu memberikan pelajaran-pelajaran yang bernilai tinggi untuk menjadi komunikator yang efektif dan ulung, baik dalam dunia pekerjaan kita maupun dalam kehidupan pribadi kita.

Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Kelima hal inilah yang diuraikan dengan amat menarik melalui penggalan-penggalan frase dari karya-karya Shakespeare tersebut. Seperti penggalan syair berikut yang diucapkan oleh tokoh karakter Ulysses yang diambil dari karya Shakespeare yang berjudul Troilus and Cressida yang berbunyi:
No man is the lord of anything, Though in and of him there be much consisting, Till he communicate his parts to others.
Disinilah letak pentingnya kemampuan mengembangkan komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu ketrampilan yang amat diperlukan dalam rangka pengembangan diri kita baik secara personal maupun profesional. Paling tidak kita harus menguasai empat jenis ketrampilan dasar dalam berkomunikasi yaitu: menulis – membaca (bahasa tulisan) dan mendengar – berbicara (bahasa lisan). Bayangkan betapa waktu-waktu kita setiap detik setiap saat kita habiskan untuk mengerjakan setidaknya salah satu dari keempat hal itu. Oleh karenanya kemampuan untuk mengerjakan ketrampilan dasar komunikasi tersebut dengan baik mutlak diperlukan demi efektifitas dan keberhasilan kita.
Menurut Stephen Covey, justru komunikasi merupakan ketrampilan yang paling penting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar jam di saat kita sadar dan bangun untuk berkomunikasi. Sama halnya dengan pernafasan, komunikasi kita anggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Kita tidak pernah dengan secara khusus mempelajari bagaimana menulis dengan efektif, bagaimana membaca dengan cepat dan efektif, bagaimana berbicara secara efektif, apalagi bagaimana menjadi pendengar yang baik. Bahkan untuk yang terakhir, yaitu ketrampilan untuk mendengar tidak pernah diajarkan atau kita pelajari dalam proses pembelajaran yang kita lakukan baik di sekolah formal maupun pendidikan informal lainnya.

Bahkan menurut Covey, hanya sedikit orang yang pernah mengikuti pelatihan mendengar. Dan sebagian besar pelatihan tersebut adalah teknik Etika Kepribadian, yang terpotong dari dasar karakter dan dasar hubungan yang mutlak vital bagi pemahaman kita terhadap keberadaan orang lain.
Stephen Covey menekankan konsep kesalingtergantungan (interdependency) untuk menjelaskan hubungan antar manusia. Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekedar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jika kata-kata ataupun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Jadi syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari fondasi integritas pribadi yang kuat.
Kita bisa menggunakan analogi sistem bekerjanya sebuah bank. Jika kita mendeposito-kan kepercayaan (trust) kita, ini akan tergambar dalam perasaan aman yang kita miliki ketika kita berhubungan dengan orang lain. Jika saya membuat deposito di dalam rekening bank emosi dengan Anda melalui integritas, yaitu sopan santun, kebaikan hati, kejujuran, dan memenuhi setiap komitmen saya, berarti saya menambah cadangan kepercayaan Anda terhadap saya. Kepercayaan Anda menjadi lebih tinggi, dan dalam kondisi tertentu, jika saya melakukan kesalahan, anda masih dapat memahami dan memaafkan saya, karena anda mempercayai saya. Ketika kepercayaan semakin tinggi, komunikasi pun mudah, cepat, dan efektif.
Covey mengusulkan enam deposito utama yang dapat menambah rekening bank emosi dalam hubungan kita dengan sesama:Berusaha benar-benar mengerti orang lain.
Ini adalah dasar dari apa yang disebut emphatetic communication- komunikasi empatik. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita biasanya ”berkomunikasi” dalam salah satu dari empat tingkat. Kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya, atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita.
Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain – memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecil begitu penting dalam suatu hubungan – hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar.
Memenuhi komitmen atau janji adalah deposito besar; melanggar janji adalah penarikan yabng besar.
Menjelaskan harapan. Penyebab dari hampir semua kesulitan dalam hubungan berakar di dalam harapan yang bertentangan atau berbeda sekitar peran dan tujuan. Harapan harus dinyatakan secara eksplisit.
Meminta maaf dengan tulus ketika Anda membuat penarikan.
Memperlihatkan integritas pribadi. Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan dan merupakan dasar dari banyak jenis deposito yang berbeda.
Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan atau teamwork tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak akan ada kepercayaan tanpa ada integritas. Integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran (honesty). Kejujuran mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata kita. Integritas bersifat aktif, sedangkan kejujuran bersifat pasif.

 


Setelah kita memiliki fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif, maka hal berikut adalah kita perlu memperhatikan 5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.Hukum # 1: Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa ”Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.

Hukum # 2: Empathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand – understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer’s behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari audiensi atau penerima pesan.

Hukum # 3: Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.

Hukum # 4: Clarity
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.

Hukum # 5: Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan

 

 





Brand and Branding

29 06 2008

Brands were originally developed as labels of ownership: name, term, design, symbol. However, today it is what they do for people that matters much more, how they reflect and engage them, how they define their aspiration and enable them to do more. Powerful brands can drive success in competitive and financial markets, and indeed become the organization’s most valuable assets.

Etymology

Brand, along with many modern-language lexemes such as English burn and brandy, German brennen, and those in many European languages based on the root therm-, are all ultimately related to the ideas of warmth, heat, burning, etc., and descend from an Indo-European root that has been reconstructed as /gwher/.[1]

In the Old English language, the noun brond is first attested from the epic poem Beowulf (circa 1000) meaning “destruction by fire.”[2][3]

Throughout the ages, brand had been used in figurative and transferred senses to mean “a person delivered from imminent danger,” “the torches of Cupid and the Furies,” and “Jove’s or God’s or Phoebus’ brand.”[4]

Brand had also been figuratively applied since the late 16th century to criminalize people (as in disgrace, a stigma, or mark of infamy) and in the sense of firebrand since the 17th century.[5]

The idea of marking things, people, or animals by burning identifying marks onto them is clearly an ancient one.

While described as a physical impression of ownership on livestock by way of hot-iron branding since the mid-17th century, modern senses of brand as used in business began to arise in the early 19th century when the term was figuratively extended to trademarks and logos. During this time, brands were imprinted on casks of wine, timber, and other goods except textile fabrics.[6]

During the 19th century in primarily the United States, hot irons used for marking livestock and cauterizing wounds were called brands, and later cattle and other livestock were also referred to as brands. A brand blotter was a thief who stole, and removed marks of ownership from, cattle.[7]

 

 

 

 

History

In the field of marketing, brands originated in the nineteenth century with the advent of packaged goods. According to Unilever records, Pears Soap was the world’s first registered commercial brand. Industrialization moved the production of household items, such as soap, from local communities to centralized factories. When shipping their items, the factories would brand their logotype insignia on the shipping barrels. These factories, generating mass-produced goods, needed to sell their products to a wider range of customers, to a customer base familiar only with local goods, and it turned out that a generic package of soap had difficulty competing with familiar, local products.

The fortunes of many of that era’s brands, such as Uncle Ben’s rice and Kellogg’s breakfast cereal, illustrate the problem. The packaged goods manufacturers needed to convince buyers that they could trust in the non-local, factory product. Campbell soup, Coca-Cola, Juicy Fruit gum, Aunt Jemima, and Quaker Oats, were the first American products to be branded to increase the customer’s familiarity with the products.

Around 1900, James Walter Thompson published a house advert explaining trademark advertising, in an early commercial description of what now is known as ‘branding’. Soon, companies adopted slogans, mascots, and jingles that were heard on radio and seen in early television. By the 1940s, Mildred Pierce manufacturers recognized how customers were developing relationships with their brands in the social, psychological, and anthropological senses. From that, manufacturers quickly learned to associate other kinds of brand values, such as youthfulness, fun, and luxury, with their products. Thus began the practice of ‘branding’, wherein the customer buys the brand rather than the product. This trend arose in the 1980s ‘brand equity mania’.[8] In 1988, Phillip Morris bought Kraft for six times its paper worth. It is believed the purchase was made because the Phillip Morris company actually wanted the Kraft brand rather than the company and its products.

April 2, 1993, labeled Marlboro Friday, is described by Klein (2000) as the death day of the brand.[8] On that day, Phillip Morris declared a 20 per cent price cut of Marlboro cigarettes in order to compete with cheaper price cigarettes. At the time, Marlboro cigarettes were notorious for their heavy advertising campaigns, and nuanced brand image. On that day, the prices of many branded companies Wall street stocks fell: [8] Heinz, Coca Cola, Quaker Oats, PepsiCo; seemingly the signal of the beginning ‘brand blindness’(Klein 13).

Concepts

Marketers engaged in branding seek to develop or align the expectations behind the brand experience, creating the impression that a brand associated with a product or service has certain qualities or characteristics that make it special or unique. A brand image may be developed by attributing a “personality” to or associating an “image” with a product or service, whereby the personality or image is “branded” into the consciousness of consumers. A brand is therefore one of the most valuable elements in an advertising theme. The art of creating and maintaining a brand is called brand management.

A brand which is widely known in the marketplace acquires brand recognition. When brand recognition builds up to a point where a brand enjoys a critical mass of positive sentiment in the marketplace, it is said to have achieved brand franchise. One goal in brand recognition is the identification of a brand without the name of the company present. For example, Disney has been successful at branding with their particular script font (originally created for Walt Disney’s “signature” logo), which it used in the logo for go.com.

“DNA” refers to the unique attributes, essence, purpose, or profile of a brand and, therefore, a company. The term is borrowed from the biological DNA, the molecular “blueprint” or genetic profile of an organism which determines its unique characteristics.

The act of associating a product or service with a brand has become part of pop culture. Most products have some kind of brand identity, from common table salt to designer clothes. In non-commercial contexts, the marketing of entities which supply ideas or promises rather than product and services (e.g. political parties or religious organizations) may also be known as “branding”.

Brand equity

Brand equity measures the total value of the brand to the brand owner, and reflects the extent of brand franchise. The term brand name is often used interchangeably with “brand”, although it is more correctly used to specifically denote written or spoken linguistic elements of a brand. In this context a “brand name” constitutes a type of trademark, if the brand name exclusively identifies the brand owner as the commercial source of products or services. A brand owner may seek to protect proprietary rights in relation to a brand name through trademark registration.

Attitude branding

Attitude branding is the choice to represent a feeling, which is not necessarily connected with the product or consumption of the product at all. Marketing labeled as attitude branding includes that of Apple, Nike, Safeway, Starbucks, and The Body Shop.[8]

Brand monopoly

In economic terms the “brand” is a device to create a monopoly—or at least some form of “imperfect competition”—so that the brand owner can obtain some of the benefits which accrue to a monopoly, particularly those related to decreased price competition. For example, the Coca Cola corporation will probably never have a monopoly on cola-flavored soda pop, but it can have a monopoly on its own brand ofcola-flavored soda pop. In this context, most “branding” is established by promotional means. There is also a legal dimension, for it is essential that the brand names and trademarks are protected by all means available. The monopoly may also be extended, or even created, by patent, copyright, trade secret (e.g. secret recipe), and other sui generis intellectual property regimes (e.g.: Plant Varieties Act, Design Act).

In all these contexts, retailers’ “own label” brands can be just as powerful. The “brand”, whatever its derivation, is a very important investment for any organization. RHM(Rank Hovis McDougall), for example, have valued their international brands at anything up to twenty times their annual earnings. Often, especially in the industrial sector, it is just the company’s name which is promoted (leading to one of the most powerful statements of “branding”; the saying, before the company’s downgrading, “No-one ever got fired for buying IBM”).

Brand extension

Main article: brand extension

An existing strong brand name can be used as a vehicle for new or modified products; for example, many fashion and designer companies extended brands into fragrances, shoes and accessories, home textile, home decor, luggage, (sun-) glasses, furniture, hotels, etc. Mars extended its brand to ice cream, Caterpillar to shoes and watches, Michelin to a restaurant guide, Adidas and Puma to personal hygiene.

There is a difference between brand extension and line extension. When Coca-Cola launched “Diet Coke” and “Cherry Coke” they stayed within the originating product category: non-alcoholic carbonated beverages. Procter & Gamble (P&G) did likewise extending its strong lines (such as Fairy Soap) into neighboring products (Fairy Liquid and Fairy Automatic) within the same category, dish washing detergents. These are examples of line, not brand extensions.

Multiple brands

In a market fragmented with many brands, a supplier can choose to launch new brands apparently competing with its own, extant strong brand (and often with an identical product), simply to obtain a greater share of the market that would go to minor brands. The rationale is that having 3 out of 12 brands in such a market will give garner a greater, overall share than having 1 out of 10 (even if much of the share of these new brands is taken from the existing one). In its most extreme manifestation, a supplier pioneering a new market which it believes will be particularly attractive may choose immediately to launch a second brand in competition with its first, in order to pre-empt others entering the market.

Individual brand names naturally allow greater flexibility by permitting a variety of different products, of differing quality, to be sold without confusing the consumer’s perception of what business the company is in or diluting higher quality products.

Once again, Procter & Gamble is a leading exponent of this philosophy, running as many as ten detergent brands in the US market. This also increases the total number of “facings” it receives on supermarket shelves. Sara Lee, on the other hand, uses it to keep the very different parts of the business separate—from Sara Lee cakes through Kiwi polishes to L’Eggs pantyhose. In the hotel business, Marriottuses the name Fairfield Inns for its budget chain (and Ramadauses Rodeway for its own cheaper hotels).

Cannibalizationis a particular problem of a “multi-brand” approach, in which the new brand takes business away from an established one which the organization also owns. This may be acceptable (indeed to be expected) if there is a net gain overall. Alternatively, it may be the price the organization is willing to pay for shifting its position in the market; the new product being one stage in this process.

Abercrombie & Fitchis a multi-brands company, rolling out Lifestyle Brands and the phony competitor Hollister Co.

Generic and private-label brands

With the emergence of strong retailers, the “own brand”, the retailer’s own branded product (or service), emerged as a major factor in the marketplace. Where the retailer has a particularly strong identity, such as, in the UK, Marks & Spencer in clothing, this “own brand” may be able to compete against even the strongest brand leaders, and may dominate those markets which are not otherwise strongly branded. There was a fear that such “own brands” might displace all other brands (as they have done in Marks & Spencer outlets), but the evidence is that—at least in supermarkets and department stores—consumers generally expect to see on display something over 50 per cent (and preferably over 60 per cent) of brands other than those of the retailer. Indeed, even the strongest own brands in the United Kingdom rarely achieve better than third place in the overall market. In the US, Target has “own” brands of “Market Pantry” and “Archer Farms” each with unique packaging and placement.

The strength of the retailers has, perhaps, been seen more in the pressure they have been able to exert on the owners of even the strongest brands (and in particular on the owners of the weaker third and fourth brands). Relationship marketing has been applied most often to meet the wishes of such large customers (and indeed has been demanded by them as recognition of their buying power). Some of the more active marketers have now also switched to ‘category marketing’—in which they take into account all the needs of a retailer in a product category rather than more narrowly focusing on their own brand.

At the same time, generic (that is, effectively unbranded goods) have also emerged. These made a positive virtue of saving the cost of almost all marketing activities; emphasizing the lack of advertising and, especially, the plain packaging (which was, however, often simply a vehicle for a different kind of image). It would appear that the penetration of such generic products peaked in the early 1980s, and most consumers still seem to be looking for the qualities that the conventional brand provides.

 

 

Aspirational brand

 

In consumer marketing, an aspirational brand (or product) is one that a large segment of its exposure audience wishes to own, but for economical reasons cannot. An aspirational product implies certain positive characteristics to the user, but the supply appears limited due to limited production quantities.

An important characteristic of an aspirational product is that the part of its exposure audience that is at present economically unable to purchase it, thinks of itself as having a fair probability of at a certain point in the future being able to do so. This part of the exposure audience is referred to as the aspirational audience, whereas the part of the exposure audience that already can afford the product is called the consumption audience. Consumption audience and aspirational audience together form the aspirational product’s target audience, which typically represents 30%-60% of the exposure audience

Weak aspirational brands have target audiences that are almost as large as their exposure audiences (e.g. mp3 player brands), and are therefore slowly becoming commodity brands, e.g. brands with consumption audiences that coincide with the exposure audience (and therefore, brands without an aspiring audience).

As a general rule, an aspirational brand and its products can command a price premium in the marketplace over a commodity brand. This ability can to a large extent be explained by the consumer’s need for invidious consumption for which he is willing to pay a premium. The smaller the size of the product’s target audience compared to the exposure audience, the more the product satisfies this need, and the higher the premium that such a consumer is prepared to pay.

Individual branding

Individual branding, also called multibranding, is the marketing strategy of giving each product in a product portfolio its own unique brand name. This is contrasted with family branding in which the products in a product line are given the same brand name. The advantage of individual branding is that each product has a self image and identity that’s unique. This facilitates the positioning process. That means that there are less Halo-effects and one can position all products differently without making trade-offs. Companies such as Coca-Cola Co. have adopted this approach for instance, Coca-Cola and Bacardi Mixers both which have their own unique brand name but are owned and marketed by Coca-Cola Co.

Additionally the term individual branding is used for keeping the brands of a company unchanged after a merger and acquisition.

see also marketing, brand, advertising, target market, brand management

Personal branding

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Personal branding is the process whereby people and their careers are marketed as brands.[1] It has been noted that while previous self-help management techniques were about self-improvement, the personal branding concept suggests instead that success comes from self-packaging.[2] The term is thought to have been first used and discussed in an 1997 article by Tom Peters.[3]

Brand loyalty has been proclaimed by some to be the ultimate goal of marketing.[1] In marketing, brand loyalty consists of a consumer’s commitment to repurchase the brand and can be demonstrated by repeated buying of a product or service or other positive behaviors such as word of mouth advocacy.[2] True brand loyalty implies that the consumer is willing, at least on occasion, to put aside their own desires in the interest of the brand.[3]

Brand loyalty is more than simple repurchasing, however. Customers may repurchase a brand due to situational constraints, a lack of viable alternatives, or out of convenience.[4] Such loyalty is referred to as “spurious loyalty”. True brand loyalty exists when customers have a high relative attitude toward the brand which is then exhibited through repurchase behavior.[2] This type of loyalty can be a great asset to the firm: customers are willing to pay higher prices, they may cost less to serve, and can bring new customers to the firm.[1][5] For example, if Joe has brand loyalty to Company A he will purchase Company A’s products even if Company B’s are cheaper and/or of a higher quality.

An example of a major brand loyalty program that extended for several years and spread worldwide is Pepsi Stuff. Perhaps the most significant contemporary example of brand loyalty is the fervent devotion of many Mac users to the Apple company and its products.

 

 





Check out my Slide Show!

19 03 2008





web interfaces

2 03 2008